Garam
Termasuk kelompok Bumbu, dan banyak digunakan untuk kebutuhan selain bumbu, sampai bahan atau alat untuk membuat hujan buatan.
Beberapa minggu ini heboh adanya Garam Impor…, terakhir Menteri Fadel Mohamad melakukan kunjungan di gudang Importir Garam di Bangkalan Madura, dan menemukan berton ton garam impor…(Kompas September 2011).
Sebuah film dokumenter yang diproduksi dalam acara Eagle Award, salah satu peserta memberi judul “Garamku Tidak Asin Lagi”.. Sebuah ironi bagi kita yang hidup di negara kepulauan, dengan luas wilayah separo lebih adalah lautan..
Bagaimana bisa sebuah negara kepulauan menjadi pengimpor garam..? Bukankah sumber garam dari laut..? Bukankah banyak petani garam yang menggantungkan hidupnya dari bertani garam..? Apakah garam dari laut Indonesia lebih jelek dari laut negara lain..? Atau pengolahan selanjutnya yang kurang baik..?
Bagaimana Pemerintah Daerah bahkan Pusat melakukan pembinaan terhadap para Petani Garam..? Atau adakah prioritas untuk mengembangkan Pertanian Garam..?
Dalam sebuah acara TV diperkirakan keuntungan bagi pedagang atau pembuat kebijakan jika garam diimpor.. Jika Fee tiap ton garam impor US $ 1 per ton, maka untuk 800.000 ton akan ada fee US $ 800.000,00, atau kira-kira Rp. 7 Milyar.. Berapa keuntungan pedagang..?
Sungguh ironi… bak ayam mati di lumbung padi..
Surabaya, 20 September 2011