Skip to content

Dua Sahabat

May 25, 2011

Di suatu negeri ada dua orang bersahabat sejak masa sekolah sampai dewasa. Mereka sempat berpisah pada masa pendidikan tinggi karena kuliah di kota dan Universitas yang berbeda. Seorang bernama Fransiskus, dan temannya bernama Acmad. Dari namanya, orang akan melihat bahwa keduanya mempunyai keimanan atau agama yang berbeda, namun hal itu tidak menghalangi persahabatan mereka. Bahkan seterlah masing-masing belajar menekuni keimanannya lebih dalam, persahabatan mereka tidak berubah.

Sering mereka berdialog, berdiskusi tentang keimanan masing-masing, untuk saling memahami perbedaan dan persamaan, sampai pada hal-hal yang ekstrim sekalipun.

Frans : “Achmad, apa bagian paling ekstrim dari agamamu yang menyangkut keimanan orang lain..?”

Achmad : “Ini bagian yang sangat sulit bagi sebagian orang yang seiman denganku. Ada ayat yang mengatakan Bagimu Agamamu, dan Bagiku Agamaku.. menurutku maknanya kita menekuni dan meyakini keimanan masing-masing tak perlu saling mengganggu atau mencampuri.

Namun ada ayat lain, yang arti bahasanya atau kata-katanya kurang lebih ‘dihalalkan untuk membunuh orang kafir‘.. Nah, masalahnya definisi kafir ini yang sering kali membingungkan.. Sebagian orang meyakini bahwa kafir adalah orang yang tidak seiman.. dan sesuai ayat tersebut boleh dibunuh”.

Frans :” Bukankah menjadi suatu kewajiban bagi seseorang untuk melaksanakan perintah agama kita, dan menjauhi larangannya..? Kalau kita tidak melaksanakan perintah agama bukankah sebuah dosa..?”

Achmad :” Kamu benar.. kita wajib menjalankan perintah agama..”

Frans :” Kenapa kamu tidak membunuhku.. atau tetanggamu yang berbeda iman..?”

Acmad :” Apa kamu menyuruh aku jadi pembunuh..? Kan ada ayat lain ‘bagimu agamamu dan bagiku agamaku’..? saya kira ada juga pemahaman itu di keimananmu.. Pemahaman itulah saya kira yang membuat kita tidak mempersoalkan keimanan kita..

Seharusnya kita tidak perlu menjadi hakim atas keimanan seseorang.. karena itu sepenuhnya hak Tuhan untuk menghakimi, menilai apakah seseorang atau mahluknya bersalah atau tidak..

Mungkin kita perlu bertanya pada diri kita sendiri.. ‘Apakah yang menciptakan aku dan kamu Tuhan yang sama..?’”

Frans :” Menurutku pemikiran seperti itulah yang seharusnya disampaikan pada para muda, pemahaman ‘bagimu agamamu bagiku agamaku’ . Jadi tidak ada ajaran kebencian pada anak-anak meskipun ada perbedaan. Akupun meyakini bahwa.. Tuhan yang menciptakan aku dan alam ini, sama dengan Tuhan yang menciptakan kamu..”

Sampai saat ini Frans dan Acmad tetap tidak bisa memahami jalan pikiran sempit orang-orang yang menghakimi orang lain karena keimanan yang berbeda.. Menganggap diri paling benar, dan mewakili Tuhan untuk menghukum orang yang tidak seiman..?

Semoga damai di bumi…

Surabaya, 25 Mei 2011

Advertisement

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.