Skip to content

Jogja..Oh…Jogja…

December 27, 2010

Rentetan bencana besar di Negeri ini mulai dari banjir di Wasior, Tsunami di Mentawai, dan letusan Merapi di Jogja, terjadi sambung menyambung. Bencana alam yang menelan korban jiwa langsung dan korban materi karena kerusakan yang ditimbulkan.. Bencana itu dibumbui pula dengan berita polirik, karena pada saat terjadi bencana ada Pejabat Negara yang berkunjung ke Luar Negeri..

Puncak berita politik yang mengikuti bencana adalah masalah Keistimewaan Yogyakarta..Pemerintah sedang mempersiapkan RUU mengenai keistimewaan DIY terutama berkaitan dengan pemilihan Gubernur, melalui Pilkada atau Penetapan..

Warga Yogyakarta yang setia pada Sultan marah, minta Gubernur ditetapkan dan dijabat oleh Sultan dan wakilny Pakualam.. Banyak orang mengungkit sejarah bergabungnya Yogya menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Banyak diskusi mengenai Keistimewaan DIY, satu pihak bertahan pada Penetapan berdasarkan alasan sejarah dan sebagainya. Pihak lain beralasan Demokrasi pemimpin Daerah dipilih melalui Pemilihan (Pilkada). Pemerintah bertahan bahwa berdasarkan UUD Kepala Daerah harus dipilih langsung oleh Rakyat, dan RUU itulah yang diserahkan ke DPR untuk dibahas..

Rakyat yang setia pada Sultan melakukan upacara Cap Jempol Darah, dan menyatakan siap mati untuk mempertahankan Keistimewaan DIY, bahkan menyatakan sekian ribu orang siap mati.

Apa sebenarnya yang “DIPEREBUTKAN ?” Kita bisa berpikiran positif bahwa kedua pihak Benar dengan landasan pikir masing-masing.. Tetapi, kita juga bisa bilan kedua pihak Salah, karena memaksakan egonya. Tidak adakah jalan lain selain yang diperdebatkan..?

Di belahan dunia lain kita lihat Inggris, ada Ratu sebagai Kepala Negara, dan ada juga Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan.. Mungkin ada juga Ratu atau Raja di Negara lain seperti Belanda, Monaco, Thailand..

Sampai saat ini Keluarga Kerajaan Inggris tetap diakui oleh warganya, bahkan warga dunia. Begitu pula di Monaco, Belanda, tetap dikenal istilah Keluarga Kerajaan dan tetap dapat pengakuan..

Seandainya… Model di Inggris diterapkan di Yogyakarta dalam skala Propinsi, mungkinkah..? Raja Jogja tetaplah seorang Raja, sedangkan Kepala Pemerintahan seorang Gubernur..? Adopsi sistem yang tentu saja dengan penyesuaian tanpa mengabaikan sejarah..

Kita semua senang dengan suasana Jogja yang adem ayem, damai, ramai dengan Wisatawan dan Pelajar..sesuai dengan julukan Kota Wisata dan Pelajar..Makanan khas Gudek yang terkenal, Bakpia, Krasikan, Klanthing, warung2 Lesehan…Batik, Gerabah,..

Akankah itu semua akan rusak hanya demi ego…atau demi ide yang dipaksakan..?

Tuhan,

Dinginkanlah jiwa para Pejabat yang berkepentingan……..

Surabaya, Desember 2010

Advertisement

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.