PINTAR..BIJAK..NEKAT..?
Setelah statusnya dinyatakan awas, pada tgl 26 Oktober 2010, Merapi meletus, menyemburkan awan atau debu panas bersuhu kurang lebih 600 derajad Celsius dengan kecepatan luncur kira-kira 100-200 km/jam, yang oleh masyarakat sekitar dinamai Wedhus Gembel. Pada daerah yang dilewati awan panas ini akan terjadi kerusakan, bahkan kematian, baik binatang ternak maupun manusia.
Oleh karena itu, masyarakat di sekitar Gunung Merapi diungsikan pada awalnya sejauh minimal 10 km dari puncak Merapi karena jarak luncurnya mencapai 5 km. Namun dalam perkembangannya, karena peningkatan semburan awan panas dengan jarak luncur mencapai 8 km, pengungsian dipindahkan minimal jarak 15 km dari puncak Merapi.
Setiap kali terjadi peningkatan aktifitas Merapi, masyarakat selalu menghubungkan dengan juru kunci Gunung Merapi yaitu mbah Marijan. Pada letusan tahun 2006, mbah Marijan tidak meninggalkan rumahnya di desa Kinahrejo yang terletak kira-kira 4 km dari puncak Merapi. Pada saat itu, desa Kinahrejo selamat dari bencana Merapi, karena luncuran awan panas ke arah lain, dan menelan korban 2 orang relawan yang sembunyi di bunker Merapi.
Pada Peristiwa letusan Merapi 26 Oktober 2010, kembali mbah Marijan tidak mau meninggalkan rumahnya untuk mengungsi. Beberapa warga desa bertahan mengikuti mbah Marijan tidak ikut mengungsi. Sayangnya hari itu luncuran awan panas langsung mengarah ke desa Kinahrejo, dan menyapu seluruh kehidupan di desa itu, termasuk mbah Marijan, dan orang-orang yang tidak mengungsi.
Korban yang ditemukan meninggal di desa tersebut ada 24 orang, dan korban keseluruhan 35 orang. Ada yang selamat dari serbuan Wedhus Gembel dengan luka bakar yang parah, baik orang maupun hewan ternak sapi.
Seharusnya tidak perlu ada korban pada letusan Merapi tersebut, karena pihak terkait sudah memerintahkan warga mengungsi pada jarak yang aman. Pemerintah salah karena tidak memaksa warga yang tidak mau mengungsi, tetapi warga juga salah karena tidak mengikuti anjuran. Sebagian warga tidak mengungsi karena mengikuti mbah Marijan yang pada peristiwa sebelumnya selamat.
Mbah Marijan bertahan karena merasa mengemban tugas menjaga Merapi, dan dijalankan dengan berani meskipun dengan resiko kematian. Bagaimana dengan warga sekitarnya yang mengikuti mbah Marijan…? Tanpa tahu rasa patriotism sang juru kunci dalam menjalankan tugasnya, mereka asal mengikuti dengan segala resikonya. Merka tidak sadar bahwa resiko yang ada seharusnya hanya menjadi tanggung jawab sang juru kunci, dan mengabaikan perintah untuk mengungsi. Akibatnya, mereka ikut menjadi korban keganasan Wedhus Gembel.
Bagaimanapun juga saat ini ada teknologi yang dapat mengukur tingat aktifitas gunung berapi, dilihat dari gempa yang ditimbulkan, maupun aktifitas visual seperti guguran lava, dan deformasi. Hasil pengamatan alat tadi pihak berwenang dapat menentukan status Gunung Merapi menjadi Awas, artinya sewaktu-waktu bisa meletus.
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa ini… Jangan asal mengikuti orang lain tanpa kita tahu dan memahami maksud orang yang kita ikuti… Kalau kita tahu, sampaikan pada orang yang mengikuti kita perlu terus atau tidak, dan batas-batas yang boleh diikuti… Tidak ada salahnya membandingkan keyakinan dengan pengetahuan…
Terakhir..Duka mendalam untuk para korban Merapi..Mentawai..Wasior.. Selamat jalan mbah Marijan.. Rosa-rosa…
Surabaya, 4 November 2010